DENPASAR - Siswa-siswa dari 18 SMA/SMK di Bali rencananya akan berpartisipasi mengisi acara Parade Cak Modern dalam rangkaian ajang Bali Mandara Nawantya selama September mendatang di Taman Budaya Denpasar.

Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali Dewa Putu Beratha mengatakan peserta Parade Cak tahun 2017 ini meningkat 100 persen jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang hanya diikuti sembilan SMA/SMK di Bali.

"SMA dan SMK yang tampil inimerupakan perwakilan dari sembilan kabupaten/kota di Bali," kata Putu Beratha di Denpasar

Dari 18 SMA/SMK yang akan menunjukkan kebolehannya di ajang Parade Cak tersebut di antaranya SMAN 1 Denpasar tampil bersama dengan SMAN Bali Mandara, selanjutnya SMAN 1 Negara dengan SMKN 1 Sukawati Gianyar, SMAN 2 Karangasem dengan SMAN 2 Denpasar, SMAN 1 Amlapura dengan SMAN 4 Denpasar.

Putu melanjutkan, Parade Cak Modern tersebut juga menampilkan duta dari SMAN 1 Mengwi dengan SMAN 1 Ubud, SMAN 1 Gianyar dengan SMAN 1 Tabanan, SMKN 4 Bangli yang tampil bersama SMA Dwijendra Denpasar, SMKN 5 Denpasar dengan SMKN 3 Sukawati, dan terakhir SMAN 1 Kuta Selatan dengan SMAN 2 Klungkung.

Sementara budayawan sekaligus pembina Cak Modern Prof Dr I Made Bandem mengatakan, meski dalam parade tersebut menampilkan inovasi Cak, ia mengaku tak melupakan elemen utama Cak.

Misalnya, lanjut dia, dari sisi centing yakni lagu-lagu atau kidung sakral Cak hingga pengecaknya harus tetap ada.

"Karena sesungguhnya Cak itu ansambel vokal. Demikian juga dari sisi kekotekan dan kekilitan Cak pun tidak boleh dilupakan. Jangan sampai karena bertema modern lantas lebih mengutamakan inovasi penggabungan dengan alat musik lainnya," katanya.

Ia mengatakan, tahun ini dirinya melihat antusiasme generasi muda dalam mengikuti Parade Cak. Bahkan, kata dia, saking tingginya minat, sejumlah siswa sempat mengalami kesurupan ketika melakukan pembinaan di Mengwi, Bandung.

"Jika seandainya nanti saat pementasan masih ada siswa yang mengalami kerauhan (trance), sudah kami ingatkan jangan sampai diangkat oleh orang di luar panggung pementasan, tetapi langsung saja diangkat oleh peserta parade. Jadikan itu sebagai bagian dari pementasan, karena kerauhan atau kesurupan juga dapat menjadi aspek estetika bagi pertunjukan kesenian," terang mantan Rektor ISI Denpasar.

 

DENPASAR - Siswa-siswa dari 18 SMA/SMK di Bali rencananya akan berpartisipasi mengisi acara Parade Cak Modern dalam rangkaian ajang Bali Mandara Nawantya selama September mendatang di Taman Budaya Denpasar.

Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali Dewa Putu Beratha mengatakan peserta Parade Cak tahun 2017 ini meningkat 100 persen jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang hanya diikuti sembilan SMA/SMK di Bali.

"SMA dan SMK yang tampil inimerupakan perwakilan dari sembilan kabupaten/kota di Bali," kata Putu Beratha di Denpasar

Dari 18 SMA/SMK yang akan menunjukkan kebolehannya di ajang Parade Cak tersebut di antaranya SMAN 1 Denpasar tampil bersama dengan SMAN Bali Mandara, selanjutnya SMAN 1 Negara dengan SMKN 1 Sukawati Gianyar, SMAN 2 Karangasem dengan SMAN 2 Denpasar, SMAN 1 Amlapura dengan SMAN 4 Denpasar.

Putu melanjutkan, Parade Cak Modern tersebut juga menampilkan duta dari SMAN 1 Mengwi dengan SMAN 1 Ubud, SMAN 1 Gianyar dengan SMAN 1 Tabanan, SMKN 4 Bangli yang tampil bersama SMA Dwijendra Denpasar, SMKN 5 Denpasar dengan SMKN 3 Sukawati, dan terakhir SMAN 1 Kuta Selatan dengan SMAN 2 Klungkung.

Sementara budayawan sekaligus pembina Cak Modern Prof Dr I Made Bandem mengatakan, meski dalam parade tersebut menampilkan inovasi Cak, ia mengaku tak melupakan elemen utama Cak.

Misalnya, lanjut dia, dari sisi centing yakni lagu-lagu atau kidung sakral Cak hingga pengecaknya harus tetap ada.

"Karena sesungguhnya Cak itu ansambel vokal. Demikian juga dari sisi kekotekan dan kekilitan Cak pun tidak boleh dilupakan. Jangan sampai karena bertema modern lantas lebih mengutamakan inovasi penggabungan dengan alat musik lainnya," katanya.

Ia mengatakan, tahun ini dirinya melihat antusiasme generasi muda dalam mengikuti Parade Cak. Bahkan, kata dia, saking tingginya minat, sejumlah siswa sempat mengalami kesurupan ketika melakukan pembinaan di Mengwi, Bandung.

"Jika seandainya nanti saat pementasan masih ada siswa yang mengalami kerauhan (trance), sudah kami ingatkan jangan sampai diangkat oleh orang di luar panggung pementasan, tetapi langsung saja diangkat oleh peserta parade. Jadikan itu sebagai bagian dari pementasan, karena kerauhan atau kesurupan juga dapat menjadi aspek estetika bagi pertunjukan kesenian," terang mantan Rektor ISI Denpasar.