Waktu merupakan salah satu nikmat berharga yang sering dilalaikan oleh orang banyak. Waktu adalah sebuah modal untuk meraih harta, ilmu, kemuliaan dan masih banyak lagi. Banyak pepatah yang menyebutkan tentang betapa berharganya waktu, “time is money” salah satunya. Di dalam alquran juga sangat banyak ayat yang menyebutkan kata tentang waktu, bahkan Alloh bersumpah dengannya, “demi malam”, “demi fajar”, “demi waktu dhuha”, dan lain-lain, bahkan terdapat satu surat khusus yang menjelaskan tentang urgensi waktu, yaitu surat Al-Ashr.

“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih, dan nasihat-menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat-menasihati supaya menetapi kesabaran”. (QS. Al-Ashr: 1-3)

Terkadang kita sering lalai dengan waktu luang. Ketika hari-hari sibuk sedang dialami, waktu luang adalah sebuah cita-cita yang dinanti-nanti. Ketika waktu luang telah datang, tak jarang jika kita menjadikan waktu tersebut seperti musuh yang harus dihabiskan. Kita bermain bertujuan untuk menghabiskan waktu. Kita menonton film untuk menghabiskan waktu, dan semisalnya. Padahal masih banyak ilmu yang harus kita pelajari untuk selamat di dunia dan di akhirat. Masih banyak ayat alquran yang harus kita hafal untuk bisa dipahami dan diamalkan. Masih banyak hadits yang belum kita tahu. Masih banyak kitab para ulama yang sama sekali belum kita sentuh.
Jika kita mengingat sebuah kaidah ini,

Dari mana kita berasal?

Untuk apa kita hidup?

Akan kemana kita setelah mati?

Tentu seketika termenung, untuk apa kita hidup? Jika umur hidup kita seluruhnya digunakan hanya untuk membaca semua kitab yang pernah ada di seluruh dunia saja tidak cukup, bagaimana jika digunakan untuk yang tidak semestinya? Jika waktu yang kita gunakan untuk semua hal yang bermanfaat saja belum cukup memberikan manfaat untuk semuanya, bagaimana jika digunakan untuk yang tidak semestinya? Sesungguhnya salah satu penyebab terjadinya kebodohan pada suatu umat adalah tentang bagaimana mereka menyia-nyiakan waktu. Fenomena ketertinggalannya barisan di barisan orang-orang yang menggeluti ilmu. Bermula dari semangat para penuntut ilmu yang mengendur, yang akhirnya orang-orang yang menggeluti ilmu semakin langka, sehingga matilah kecerdasan dan jayalah kemalasan dan lahirlah kebodohan.

Dari Ibnu Abbas ra, dia berkata Nabi Shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda: “Dua kenikmatan yang sering dilupakan oleh kebanyakan manusia adalah kesehatan dan waktu luang”. HR. Bukhori

Ada hal yang menakjubkan ketika kita melihat bagaimana ulama-ulama terdahulu menggunakan waktu hidupnya. Para ulama adalah sebuah anugerah terbaik dari Alloh Subhanahu wa Ta’ala yang bisa kita ambil beberapa keteladanannya, salah satunya adalah cara memanfaatkan waktu. Perjalanan hidup mereka baik, perilaku mereka shalih, waktu-waktu mereka selalu digunakan untuk hal-hal yang bermanfaat. Para ulama telah mewariskan ilmu hingga tersampailah kepada kita Alquran dan hadits serta berbagai macam ilmu lainnya. Betapa berhati-hatinya mereka dalam menggunakan waktu hidupnya.

Disebutkan sebuah riwayat dari Amir bin Abdi Qais, salah seorang tabi’in, bahwa ada seorang pria berkata kepadanya, “Berbincang-bincanglah denganku.” Amir bin Abdi Qais menjawab, “Tahanlah matahari”. Artinya, “Cobalah hentikan perputaran matahari, jangan biarkan ia berputar, baru aku akan berbincang-bincang denganmu. Karena sesungguhnya waktu ini senantiasa merayap dan bergerak maju, dan setelah berlalu ia tak akan kembali lagi. Maka kerugian akibat tak memanfaatkan waktu adalah jenis kerugian yang tidak dapat diganti atau dicarikan kompensasinya. Karena setiap waktu membutuhkan amal perbuatan sebagai isinya”.[1]

Khalil bin Ahmad, seorang ulama paling cerdas yang lahir pada tahun 100 H mengalami waktu yang sangat berat, yakni ketika menggunakan waktunya untuk makan. Ia pernah berkata, “Waktu yang paling berat bagiku adalah waktu makan”. Khalil bin Ahmad merasa rugi jika waktu yang digunakan hanya untuk makan, sedangkan masih banyak ilmu yang harus ia cari dan karya yang harus ia hasilkan.[2]

Ibnu Aqil punya kisah yang berbeda sedikit. Ia lebih memilih kue basah ketimbang roti kering untuk dimakan agar waktu makannya semakin cepat. Ia pernah menuturkan, “Sebisa mungkin saya berusaha meringkas waktu makan sehingga saya lebih memilih kue yang sengaja saya basahi dengan air, ketimbang menyantap roti kering. Karena ada selisih waktu yang membedakan keduanya saat dikunyah. Yakni agar waktu belajar saya lebih optimal, dan agar saya dapat mengejar pelajaran lain yang belum saya mengerti. Karena menurut kesepakatan para ulama, sesuatu yang paling berharga bagi orang berakal adalah waktu. Waktu adalah harta karun yang dapat digunakan untuk menggapai peluang. Karna beban kita banyak sementara waktu selalu bergerak cepat”.[3]

Betapa disiplinnya para ulama terdahulu untuk tetap menjaga kualitas waktunya dalam hal-hal yang bermanfaat. Tak heran jika karya-karya mereka sangat banyak dan bernilai hingga masa kini masih banyak ditemukan. Salah satunya karena mereka disiplin dalam mengatur waktu. Kita sering berpikir, “itu kan ulama, kalau saya mah apa? Jelas beda lah”. Nasihat dari Umar bin Abdul Aziz adalah jawabannya,
“Jika Engkau Mampu, Jadilah Seorang Ulama…
Jika Engkau Tidak Mampu, maka Jadilah Penuntut Ilmu…
Jika Engkau Tidak Mampu Jadi Penuntut Ilmu, maka Cintailah Mereka…
Dan Jika Engkau Tidak Mencintai Mereka, maka Jangan Engkau Benci Mereka”.

Berhentilah pada baris yang kedua. Jika kita tidak mampu menjadi seorang ulama, maka jadilah seorang penuntut ilmu. Penuntut ilmu yang tidak pernah melewatkan waktunya dengan hal yang sia-sia.

Dalam lain hal, setiap orang atau seorang penuntut ilmu sekali pun pernah mengalami yang namanya sebuah kekecewaan. Tanpa disadari, ketika ditimpa sebuah kekecewaan, seseorang fokus menggunakan waktu luangnya hanya untuk merenung, memikirkan kekecewaannya dan membuang-buang waktu hanya dengan sebuah kesedihan yang telah lalu. Ia lupa untuk tetap menjaga kualitas waktunya. Betapa banyak waktu yang terbuang untuk merenungi itu semua? Sungguh perenungan itu tidak akan memperbaiki hal buruk yang telah terjadi. Tetap jaga kualitas waktu. Percayalah kesedihan karena kecewa mudah hilang hanya dengan hal-hal yang bermanfaat, membaca alquran atau menuntut ilmu.
Betapa banyak umur kita yang telah digunakan untuk hal yang sia-sia? Kita terlalu sibuk pada hal-hal yang mubah, makruh, atau haram, bukan sibuk pada hal-hal yang sunnah atau wajib.

Betapa banyak kesempatan yang kita lewatkan untuk menunaikan semua amanah kita? Hingga akhirnya timbul penyesalan di penghujung cerita karena telah lalai dalam amanah.
Masih banyak kewajiban yang harus kita penuhi. Masih banyak amanah yang harus kita tuntaskan dengan penuh rasa tanggung jawab. Masih banyak ilmu yang belum kita kuasai. Masih banyak tentang perintah dan larangan-Nya yang belum kita ketahui untuk diamalkan. Masih banyak ayat alquran, hadits atau kitab para ulama yang belum kita pahami.

Masih sempat waktu kita digunakan hanya untuk bermain?

Masih sempat waktu kita digunakan hanya untuk menonton film hiburan?

Masih sempat waktu kita digunakan hanya untuk Ghibah atau obrolan yang sia-sia?

Waktu adalah nikmat berharga yang tak akan pernah kembali. Manfaatkanlah kesempatan yang masih ada. Tetap jaga kualitas waktumu di sisa-sisa hidupmu dengan hal yang bermanfaat. Sesungguhnya modal semua orang adalah sama, yang menjadikan tiap orang berbeda hanyalah tentang bagaimana cara mereka memanfaatkan waktu.

[1] Syaikh Abdul Fattah, Manajemen Waktu Para Ulama, Zamzam, Riyadh, 1408 H, hal. 53-54.
[2] Ibid, hal. 56
[3] Ibid, hal. 99

 

 

RENUNGAN TENTANG WAKTU

Waktu merupakan salah satu nikmat berharga yang sering dilalaikan oleh orang banyak. Waktu adalah sebuah modal untuk meraih harta, ilmu, kemuliaan dan masih banyak lagi. Banyak pepatah yang menyebutkan tentang betapa berharganya waktu, “time is money” salah satunya. Di dalam alquran juga sangat banyak ayat yang menyebutkan kata tentang waktu, bahkan Alloh bersumpah dengannya, “demi malam”, “demi fajar”, “demi waktu dhuha”, dan lain-lain, bahkan terdapat satu surat khusus yang menjelaskan tentang urgensi waktu, yaitu surat Al-Ashr.

“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih, dan nasihat-menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat-menasihati supaya menetapi kesabaran”. (QS. Al-Ashr: 1-3)

Terkadang kita sering lalai dengan waktu luang. Ketika hari-hari sibuk sedang dialami, waktu luang adalah sebuah cita-cita yang dinanti-nanti. Ketika waktu luang telah datang, tak jarang jika kita menjadikan waktu tersebut seperti musuh yang harus dihabiskan. Kita bermain bertujuan untuk menghabiskan waktu. Kita menonton film untuk menghabiskan waktu, dan semisalnya. Padahal masih banyak ilmu yang harus kita pelajari untuk selamat di dunia dan di akhirat. Masih banyak ayat alquran yang harus kita hafal untuk bisa dipahami dan diamalkan. Masih banyak hadits yang belum kita tahu. Masih banyak kitab para ulama yang sama sekali belum kita sentuh.
Jika kita mengingat sebuah kaidah ini,

Dari mana kita berasal?

Untuk apa kita hidup?

Akan kemana kita setelah mati?

Tentu seketika termenung, untuk apa kita hidup? Jika umur hidup kita seluruhnya digunakan hanya untuk membaca semua kitab yang pernah ada di seluruh dunia saja tidak cukup, bagaimana jika digunakan untuk yang tidak semestinya? Jika waktu yang kita gunakan untuk semua hal yang bermanfaat saja belum cukup memberikan manfaat untuk semuanya, bagaimana jika digunakan untuk yang tidak semestinya? Sesungguhnya salah satu penyebab terjadinya kebodohan pada suatu umat adalah tentang bagaimana mereka menyia-nyiakan waktu. Fenomena ketertinggalannya barisan di barisan orang-orang yang menggeluti ilmu. Bermula dari semangat para penuntut ilmu yang mengendur, yang akhirnya orang-orang yang menggeluti ilmu semakin langka, sehingga matilah kecerdasan dan jayalah kemalasan dan lahirlah kebodohan.

Dari Ibnu Abbas ra, dia berkata Nabi Shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda: “Dua kenikmatan yang sering dilupakan oleh kebanyakan manusia adalah kesehatan dan waktu luang”. HR. Bukhori

Ada hal yang menakjubkan ketika kita melihat bagaimana ulama-ulama terdahulu menggunakan waktu hidupnya. Para ulama adalah sebuah anugerah terbaik dari Alloh Subhanahu wa Ta’ala yang bisa kita ambil beberapa keteladanannya, salah satunya adalah cara memanfaatkan waktu. Perjalanan hidup mereka baik, perilaku mereka shalih, waktu-waktu mereka selalu digunakan untuk hal-hal yang bermanfaat. Para ulama telah mewariskan ilmu hingga tersampailah kepada kita Alquran dan hadits serta berbagai macam ilmu lainnya. Betapa berhati-hatinya mereka dalam menggunakan waktu hidupnya.

Disebutkan sebuah riwayat dari Amir bin Abdi Qais, salah seorang tabi’in, bahwa ada seorang pria berkata kepadanya, “Berbincang-bincanglah denganku.” Amir bin Abdi Qais menjawab, “Tahanlah matahari”. Artinya, “Cobalah hentikan perputaran matahari, jangan biarkan ia berputar, baru aku akan berbincang-bincang denganmu. Karena sesungguhnya waktu ini senantiasa merayap dan bergerak maju, dan setelah berlalu ia tak akan kembali lagi. Maka kerugian akibat tak memanfaatkan waktu adalah jenis kerugian yang tidak dapat diganti atau dicarikan kompensasinya. Karena setiap waktu membutuhkan amal perbuatan sebagai isinya”.[1]

Khalil bin Ahmad, seorang ulama paling cerdas yang lahir pada tahun 100 H mengalami waktu yang sangat berat, yakni ketika menggunakan waktunya untuk makan. Ia pernah berkata, “Waktu yang paling berat bagiku adalah waktu makan”. Khalil bin Ahmad merasa rugi jika waktu yang digunakan hanya untuk makan, sedangkan masih banyak ilmu yang harus ia cari dan karya yang harus ia hasilkan.[2]

Ibnu Aqil punya kisah yang berbeda sedikit. Ia lebih memilih kue basah ketimbang roti kering untuk dimakan agar waktu makannya semakin cepat. Ia pernah menuturkan, “Sebisa mungkin saya berusaha meringkas waktu makan sehingga saya lebih memilih kue yang sengaja saya basahi dengan air, ketimbang menyantap roti kering. Karena ada selisih waktu yang membedakan keduanya saat dikunyah. Yakni agar waktu belajar saya lebih optimal, dan agar saya dapat mengejar pelajaran lain yang belum saya mengerti. Karena menurut kesepakatan para ulama, sesuatu yang paling berharga bagi orang berakal adalah waktu. Waktu adalah harta karun yang dapat digunakan untuk menggapai peluang. Karna beban kita banyak sementara waktu selalu bergerak cepat”.[3]

Betapa disiplinnya para ulama terdahulu untuk tetap menjaga kualitas waktunya dalam hal-hal yang bermanfaat. Tak heran jika karya-karya mereka sangat banyak dan bernilai hingga masa kini masih banyak ditemukan. Salah satunya karena mereka disiplin dalam mengatur waktu. Kita sering berpikir, “itu kan ulama, kalau saya mah apa? Jelas beda lah”. Nasihat dari Umar bin Abdul Aziz adalah jawabannya,
“Jika Engkau Mampu, Jadilah Seorang Ulama…
Jika Engkau Tidak Mampu, maka Jadilah Penuntut Ilmu…
Jika Engkau Tidak Mampu Jadi Penuntut Ilmu, maka Cintailah Mereka…
Dan Jika Engkau Tidak Mencintai Mereka, maka Jangan Engkau Benci Mereka”.

Berhentilah pada baris yang kedua. Jika kita tidak mampu menjadi seorang ulama, maka jadilah seorang penuntut ilmu. Penuntut ilmu yang tidak pernah melewatkan waktunya dengan hal yang sia-sia.

Dalam lain hal, setiap orang atau seorang penuntut ilmu sekali pun pernah mengalami yang namanya sebuah kekecewaan. Tanpa disadari, ketika ditimpa sebuah kekecewaan, seseorang fokus menggunakan waktu luangnya hanya untuk merenung, memikirkan kekecewaannya dan membuang-buang waktu hanya dengan sebuah kesedihan yang telah lalu. Ia lupa untuk tetap menjaga kualitas waktunya. Betapa banyak waktu yang terbuang untuk merenungi itu semua? Sungguh perenungan itu tidak akan memperbaiki hal buruk yang telah terjadi. Tetap jaga kualitas waktu. Percayalah kesedihan karena kecewa mudah hilang hanya dengan hal-hal yang bermanfaat, membaca alquran atau menuntut ilmu.
Betapa banyak umur kita yang telah digunakan untuk hal yang sia-sia? Kita terlalu sibuk pada hal-hal yang mubah, makruh, atau haram, bukan sibuk pada hal-hal yang sunnah atau wajib.

Betapa banyak kesempatan yang kita lewatkan untuk menunaikan semua amanah kita? Hingga akhirnya timbul penyesalan di penghujung cerita karena telah lalai dalam amanah.
Masih banyak kewajiban yang harus kita penuhi. Masih banyak amanah yang harus kita tuntaskan dengan penuh rasa tanggung jawab. Masih banyak ilmu yang belum kita kuasai. Masih banyak tentang perintah dan larangan-Nya yang belum kita ketahui untuk diamalkan. Masih banyak ayat alquran, hadits atau kitab para ulama yang belum kita pahami.

Masih sempat waktu kita digunakan hanya untuk bermain?

Masih sempat waktu kita digunakan hanya untuk menonton film hiburan?

Masih sempat waktu kita digunakan hanya untuk Ghibah atau obrolan yang sia-sia?

Waktu adalah nikmat berharga yang tak akan pernah kembali. Manfaatkanlah kesempatan yang masih ada. Tetap jaga kualitas waktumu di sisa-sisa hidupmu dengan hal yang bermanfaat. Sesungguhnya modal semua orang adalah sama, yang menjadikan tiap orang berbeda hanyalah tentang bagaimana cara mereka memanfaatkan waktu.

[1] Syaikh Abdul Fattah, Manajemen Waktu Para Ulama, Zamzam, Riyadh, 1408 H, hal. 53-54.
[2] Ibid, hal. 56
[3] Ibid, hal. 99